Cari Blog Ini

Memuatkan ...

Rabu, 2009 November 25

Hukum Nyanyian Dalam Islam : Boleh atau Tak ??

Dalam kitab yang sama beliau (Ibnul Jauzi) melanjutkan : Al Qasim bin Muhammad bin Abi Bakr ditanya tentang nyanyian. Ia menjawab : “Saya melarangmu dari nyanyian dan membencinya untukmu.” Orang itu bertanya : “Apakah nyanyian itu haram?” Al Qasim menukas : “Wahai anak saudaraku, jika Allah memisahkan al haq (kebenaran) dan al bathil (kebathilan) pada hari kiamat, maka di manakah nyanyian itu berada?”

Ibnu Abbas juga pernah ditanya demikian dan balik bertanya : “Bagaimana pendapatmu jika al haq dan al bathil datang beriringan pada hari kiamat, maka bersama siapakah al ghina’ (nyanyian) itu?” Si penanya menjawab : “Tentu saja bersama al bathil.” Kemudian Ibnu Abbas berkata : “(Benar) pergilah! Engkau telah memberikan fatwa (yang tepat) untuk dirimu.” Dan Ibnul Qayyim menerangkan bahwa jawaban Ibnu Abbas ini berkenaan dengan nyanyian orang Arab yang bebas dan bersih dari pujian-pujian dan penyebutan terhadap minuman keras atau hal-hal yang memabukkan, zina, homoseks, atau lesbian, juga tidak mengandung ungkapan mengenai bentuk dan rupa wanita yang bukan mahram dan bebas pula dari iringan musik, baik yang sederhana sekalipun, seperti ketukan-ketukan ranting, tepukan tangan, dan sebagainya.

Dan tentunya jawaban beliau ini akan lebih keras dan tegas seandainya beliau melihat kenyataan yang ada sekarang ini.

Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid mengomentari jawaban ini dan menyatakan bahwa jawaban ini (jawaban Al Qasim dan Ibnu Abbas) adalah jawaban bijak dan sangat tepat. (Lihat Muntaqa Nafis halaman 306)

Ibnu Baththah Al Ukbari (ketika ditanya tentang mendengarkan nyanyian) berkata : “Saya melarangnya, saya beritahukan padanya bahwa mendengarkan nyanyian itu diingkari oleh ulama dan dianggap baik oleh orang-orang tolol. Yang melakukannya adalah orang-orang sufi yang dinamai para oleh muhaqqiq sebagai orang-orang Jabriyah. Mereka adalah orang-orang yang rendah kemauannya, senang mengadakan bid’ah, menonjol-nonjolkan kezuhudan, … .” (Muntaqa Nafis halaman 308)

Asy Sya’bi mengatakan bahwa orang-orang yang bernyanyi dan yang (mengundang) penyanyi untuk dirinya pantas untuk dilaknat. (Dikeluarkan oleh Ibnu Abiddunya, lihat Kasyful Qina’ halaman 91 dan Muntaqa Nafis min Talbis Iblis halaman 306)

Fudhail bin ‘Iyadl mengatakan bahwa al ghina’ (nyanyian) adalah mantera zina. (Kasyful Qina’ halaman 90 dan Mawaridul Aman halaman 318)

Dalam kitab yang sama (halaman 318), disebutkan pula nasihat Yazid Ibnul Walid kepada pemuka-pemuka Bani Umayah : “Wahai Bani Umayah, hati-hatilah kamu terhadap al ghina’, sebab ia mengurangi rasa malu, menghancurkan kehormatan dan harga diri, dan menjadi pengganti bagi khamr, sehingga pelakunya akan berbuat sebagaimana orang yang mabuk khamr berbuat. Oleh karena itu, kalau kamu merasa tidak dapat tidak (mesti) bernyanyi juga, jauhilah perempuan, karena nyanyian itu mengajak kepada perzinaan.”

Adl Dlahhak menegaskan : “Nyanyian itu menyebabkan kerusakan bagi hati dan mendatangkan murka Allah.” (Muntaqa Nafis halaman 307)

Dalam kitab yang sama, Umar bin Abdul Aziz menulis surat kepada guru-guru anaknya : “Hendaklah yang pertama kau tanamkan dalam pendidikan akhlaknya adalah benci pada alat-alat musik, karena awalnya (permainan musik itu) adalah dari syaithan dan kesudahannya adalah kemurkaan Ar Rahman Azza wa Jalla.”

Imam Abu Bakar Ath Thurthusi dalam khutbah (kata pengantar) kitabnya, Tahrimus Sima’, menyebutkan :

[ … oleh karena itu saya pun ingin menjelaskan yang haq dan mengungkap syubhat-syubhat yang bathil dengan hujjah dari Al Qur’an dan As Sunnah. Akan saya mulai dengan perkataan para ulama yang berhak mengeluarkan fatwa ke seluruh penjuru dunia agar orang-orang yang selama ini secara terang-terangan menampakkan kemaksiatan (bernyanyi dan bermain musik) sadar bahwa mereka telah teramat jauh menyimpang dari jalan kaum Mukminin. Allah ta’ala berfirman :

“Dan siapa yang menentang Rasul setelah jelas bagi mereka petunjuk serta mengikuti jalan yang bukan jalannya kaum Mukminin, Kami biarkan dia memilih apa yang diingini nafsunya dan Kami masukkan dia ke jahanam sedangkan jahanam itu adalah sejelek-jelek tempat kembali.” (QS. An Nisa’ : 115) ]

Selanjutnya beliau (Imam Ath Thurthusi) menyebutkan bahwa Imam Malik melarang adanya nyanyian dan mendengarkannya. Menurut Imam Malik, apabila seseorang membeli budak wanita dan ternyata ia penyanyi, hendaklah segera dikembalikan, sebab hal itu merupakan aib. Ketika beliau ditanya tentang adanya rukhshah (keringanan) yang dilakukan (sebagian) penduduk Madinah, beliau menjawab : “Yang melakukannya (bernyanyi dan bermain musik) di kalangan kami adalah orang-orang fasik.”

Imam Abu Hanifah dan Ahli Bashrah maupun Kufah, seperti Sufyan Ats Tsauri, Hammad, Ibrahim An Nakha’i, Asy Sya’bi, dan lain-lain membenci al ghina’ dan menggolongkannya sebagai suatu dosa dan hal ini tidak diperselisihkan di kalangan mereka. Madzhab Imam Hanafi ini termasuk madzhab yang sangat keras dan pendapatnya paling tegas dalam perkara ini. Hal ini ditunjukkan pula oleh shahabat-shahabat beliau yang menyatakan haramnya mendengarkan alat-alat musik, walaupun hanya ketukan sepotong ranting. Mereka menyebutnya sebagai kemaksiatan, mendorong kepada kefasikan, dan ditolak persaksiannya.

Intisari perkataan mereka adalah : Sesungguhnya mendengar nyanyian dan musik adalah kefasikan dan bersenang-senang menikmatinya adalah kekufuran. Inilah perkataan mereka meskipun dengan meriwayatkan hadits-hadits yang tidak tepat apabila dinisbatkan (disandarkan) kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam.

Mereka (ulama madzhab Hanafi) juga menyeru agar seseorang berusaha dengan sungguh-sungguh untuk tidak mendengarkan jika melewatinya atau jika bunyi musik itu kebetulan berada di rumah tetangganya. Hal ini pernah dilakukan Abu Yusuf ketika mendengar ada yang bernyanyi dan bermain musik di sebuah rumah, beliau berkata : “Masuklah dan tidak perlu ijin, karena mencegah kemungkaran adalah fardlu (wajib). Maka jika tidak boleh masuk tanpa ijin, terhalanglah bagi manusia menegakkan kewajiban ini.”

Kemudian Imam Ath Thurthusi melanjutkan pula keterangannya bahwa Imam Syafi’i dalam kitab Al Qadla, Al Umm (6/214) menegaskan sesungguhnya al ghina’ adalah permainan yang dibenci dan menyerupai kebathilan bahkan merupakan sesuatu yang mengada-ada. Siapa yang terus-menerus (sering) bernyanyi maka ia adalah orang dungu dan ditolak persaksiannya.

Para shahabat Imam Syafi’i yang betul-betul memahami ucapan dan istinbath (pengambilan kesimpulan dari dalil), madzhab beliau dengan tegas menyatakan haramnya nyanyian dan musik dan mereka mengingkari orang-orang yang menyandarkan kepada beliau (Imam Syafi’i) mengenai penghalalannya. Di antara mereka adalah Qadly Abu Thayyib Ath Thabari, Syaikh Abi Ishaq, dan Ibnu Shabbagh. Demikian pernyataan Imam Ath Thurthusi rahimahullah. (Mawaridul Aman Muntaqa min Ighatsati Lahfan halaman 301)

Ibnul Qayyim menyebutkan bahwa Imam Ibnu Shalah dalam fatwanya menyatakan :

“Adapun yang perlu diketahui dalam permasalahan ini adalah bahwa sesungguhnya duf (rebana), alat musik tiup, dan nyanyian-nyanyian, jika terkumpul (dilakukan/dimainkan secara bersamaan) maka mendengarkannya haram, demikian pendapat para imam madzhab dan ulama-ulama Muslimin lainnya. Dan tidak ada keterangan yang dapat dipercaya dari seseorang yang ucapannya diikuti (jadi pegangan) dalam ijma’ maupun ikhtilaf bahwa ia (Imam Syafi’i) membolehkan keduanya (nyanyian dan musik).

Adapun persaksian yang dapat diterima beritanya dari shahabat-shahabat beliau adalah dalam permasalahan ‘bagaimana hukum masing-masingnya bila berdiri sendiri, terompet sendiri, duff sendiri?’ Maka siapa saja yang tidak memiliki kemampuan mendapatkan keterangan rinci tentang hal ini dan tidak memperhatikannya dengan teliti, bisa jadi akan meyakini adanya perselisihan di kalangan ulama madzhab Syafi’i dalam mendengar seluruh alat-alat musik ini. Hal ini adalah kekeliruan yang nyata dan oleh sebab itu, hendaknya ia mendatangkan dalil-dalil syar’i dan logis. Sebab tidaklah semua perselisihan itu melegakan dan bisa jadi pegangan. Maka siapa saja yang meneliti adanya perselisihan ulama dalam suatu persoalan dan mengambil keringanan (rukhshah) dari pendapat-pendapat mereka, berarti ia terjerumus dalam perbuatan zindiq atau bahkan hampir menjadi zindiq.” (Mawaridul Aman 303)

Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid Al Atsari hafidhahullah mengomentari pernyataan Ibnul Qayyim ini dengan menukil riwayat Al Khalal (dalam Al Amru bil Ma’ruf) dari Sulaiman At Taimy yang mengatakan : “Kalau kamu mengambil setiap keringanan (rukhshah) dari seorang alim atau kekeliruannya, berarti telah terkumpul pada dirimu seluruh kejahatan.” (Lihat Mawaridul Aman halaman 303)

Diriwayatkan dari Imam Syafi’i secara mutawatir bahwa beliau berkata : “Saya tinggalkan di Baghdad sesuatu yang diada-adakan oleh orang-orang zindiq, mereka menamakannya at taghbir dan menghalangi manusia --dengannya-- dari Al Qur’an.” (Juz’uttiba’ As Sunan Wajtinabil Bida’ oleh Dliya’ Al Maqdisi dalam Mawaridul Aman halaman 304)

Ditambahkan pula oleh Abu Manshur Al Azhari (seorang imam ahli lughah dan adab bermadzhab Syafi’i, wafat tahun 370 H) : “Mereka menamakan suara yang mereka perindah dengan syair-syair dalam berdzikrullah ini dengan taghbir, seakan-akan mereka bernyanyi ketika mengucapkannya dengan irama yang indah, kemudian mereka menari-nari lalu menamakannya mughbirah.” (Talbis Iblis halaman 230 dalam Kasyful Qina’ halaman 54)

Maka kalaulah seperti ini ucapan beliau terhadap at taghbir dengan ‘illahnya (alasan) karena menghalangi manusia dari Al Qur’an, --padahal at taghbir itu berisi syair-syair yang mendorong untuk zuhud (tidak butuh) terhadap dunia, para penyanyi mendendangkannya sementara hadirin mengetuk-ngetuk sesuatu atau dengan mendecakkan mulut sesuai irama lagu--, maka bagaimana pula ucapan beliau apabila mendengar nyanyian yang ada di jaman ini, at taghbir bagi beliau bagai buih di lautan dan meliputi berbagai kejelekan bahkan mencakup segala perkara yang diharamkan?!

Adapun madzhab Imam Ahmad sebagaimana dikatakan Abdullah, puteranya : “Saya bertanya pada ayahku tentang al ghina’ menumbuhkan kemunafikan dalam hati, ini tidaklah mengherankanku.” (Lihat Mawaridul Aman 305)

Pada kesempatan lain, beliau berkata : “Saya membencinya. Nyanyian itu adalah bid’ah yang diada-adakan. Jangan bermajelis dengan mereka (penyanyi).” (Talbis Iblis halaman 228 dalam Kasyful Qina’ halaman 52)

Ibnul Jauzi menerangkan : “Sesungguhnya nyanyian itu mengeluarkan manusia dari sikap lurus dan merubah akalnya. Maksudnya, jika seseorang bernyanyi (bermain musik), berarti ia telah melakukan sesuatu yang membuktikan jeleknya kesehatan akalnya, misalnya menggoyang-goyangkan kepalanya, bertepuk tangan, menghentak-hentakkan kaki ke tanah. Dan ini tidak berbeda dengan perbuatan orang-orang yang kurang akalnya, bahkan sangat jelas bahwa nyanyian mendorong sekali ke arah itu, bahkan perbuatannya itu seperti perbuatan pemabuk. Oleh sebab itu, pantas kalau larangan keras ditujukan terhadap nyanyian.” (Muntaqa Nafis 307)

Ibnul Qayyim pun menjelaskan dalam Mawaridul Aman halaman 320-322 : “Sesungguhnya ucapan Ibnu Mas’ud yang telah disebutkan tadi menunjukkan dalamnya pemahaman shahabat tentang keadaan hati, amalan-amalannya, sekaligus jelinya mereka terhadap penyakit hati dan obat-obatnya. Dan sungguh, mereka adalah suatu kaum yang merupakan dokter-dokter hati, mereka mengobati penyakit-penyakit hati dengan obat terbesar dan paling ampuh.”

Beliau melanjutkan : “Ketahuilah bahwa nyanyian bagaikan angin panas yang mempunyai pengaruh amat kuat dalam menebarkan bibit-bibit kemunafikan. Dan kemunafikan tersebut akan tumbuh dalam hati bagaikan tumbuhnya tanaman dengan air.”

Inti pernyataan ini adalah nyanyian itu melalaikan hati dan menghalanginya dari Al Qur’an dalam upaya pemahaman serta pengamalannya. Karena sesungguhnya Al Qur’an dan al ghina’ tidak akan bersatu dalam sebuah hati, selamanya. Ya, karena keduanya memiliki berbagai perbedaan yang menyolok dan sangat bertolak belakang. Al Qur’an mencegah kita untuk memperturutkan hawa nafsu, menganjurkan kita menjaga kehormatan dan harga diri sebagai hamba Allah dan khalifah-Nya yang mulia, juga mengajak kita menjauhi dorongan-dorongan (syahwat) dan keinginan hawa nafsu serta berbagai sebab kesesatan lainnya. Al Qur’an juga melarang kita mengikuti dan meniru langkah-langkah syaithan. Sedangkan al ghina’ mengajak kita pada kebalikan dari yang diperintahkan dan dicegah oleh Al Qur’an. Bahkan al ghina’ memperindah pandangan kita terhadap syahwat dan hawa nafsu, mempengaruhi yang tersembunyi sekalipun dan menggerakkannya kepada seluruh kejelekan serta mendorongnya untuk menuju kepada hal-hal yang (dianggap) menyenangkan.

Oleh karena itu, ketika kita melihat seorang yang memiliki kedudukan terhormat, kewibawaan, dan kecermelangan akal, serta keindahan iman dan keagungan Islam, dan manisnya Al Qur’an akan tetapi ia senang mendengarkan nyanyian dan cenderung kepadanya, berkuranglah akalnya dan rasa malu dalam dirinya pun mulai menipis, wibawanya lenyap, bahkan kecermelangan akalnya telah pula menjauhinya,. Akibatnya syaithan bergembira menyambut keadaan ini. Imannya pun mengeluh dan mengadukannya kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan akhirnya Al Qur’an menjadi sesuatu yang berat baginya. Lalu ia (iman itu) berdoa kepada Rabbnya : “Ya Rabbku, jangan Kau kumpulkan aku dengan musuh-Mu dalam hati (dada) yang sama.”

Akhirnya, ia akan menganggap baik hal-hal yang dianggapnya jelek sebelum ia mendengarkan nyanyian dan membuka sendiri rahasia yang pernah dia sembunyikan. Setelah itu ia pun mulai berpindah dari keadaan dirinya yang semula penuh dengan kewibawaan dan ketenangan menjadi orang yang banyak bicara dan berdusta, menggoyang-goyangkan kepala, bahu, menghentakkan kakinya ke bumi, mengetuk-ngetuk kepala, melompat-lompat dan berputar-putar bagai keledai, bertepuk tangan seperti perempuan, bahkan kadang merintih bagai orang yang sangat berduka atau berteriak layaknya orang gila.

Sebagian orang-orang arif berkata : “Mendengar nyanyian mewariskan kemunafikan pada suatu kaum, dusta, kekafiran, dan kebodohan.”

Warisan yang paling besar pengaruhnya akibat nyanyian adalah rasa rindu (asyik) terhadap bayangan (gambaran khayal), menganggap baik segala kekejian, dan apabila ini terus berlanjut, akan menyebabkan Al Qur’an menjadi berat di hati, bahkan menimbulkan rasa benci apabila mendengarnya secara khusus.

Oleh sebab itu, jika hal yang seperti ini bukan kemunafikan, apalagi yang dikatakan hakikat kemunafikan itu? Demikian keterangan Ibnul Qayyim rahimahullah.

Adapun rahasia penting tentang hakikat kemunafikan adalah perbedaan atau perselisihan yang nyata antara lahir dan bathin. (Mawaridul Aman halaman 322)

Penyanyi maupun yang mendengarkannya berada di antara dua kemungkinan. Bisa jadi dia akan membuka kedoknya berbuat terang-terangan sehingga jadilah ia orang yang durhaka. Atau di samping bernyanyi, ia juga menampakkan ibadahnya, akibatnya jadilah ia seorang yang munafik.

Dalam hal terakhir ini, ia menampakkan rasa cintanya kepada Allah dan kampung akhirat, sementara hatinya mendidih oleh gelegak syahwat, kecintaan terhadap perkara yang dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya, yaitu suara alat-alat musik dan permainan-permainan lainnya, serta hal-hal yang diserukan oleh nyanyian. Hatinya pun penuh dengan kejelekan itu dan kosong atau sepi dari rasa cinta terhadap apa yang dicintai Allah dan Rasul-nya. Inilah intinya nifak.

Juga seperti yang telah kita sepakati bahwa iman adalah keyakinan, perkataan, dan perbuatan. Tentunya perkataan dan perbuatan yang haq (taat). Padahal iman itu hanya tumbuh di atas dzikrullah dan tilawatil Qur’an, sedangkan nifak sebaliknya. Ia merupakan perkataan yang bathil dan amalan-amalan sesat dan tumbuh di atas al ghina’.

Salah satu ciri kemunafikan adalah kurangnya dzikrullah, malas dan enggan menegakkan shalat, kalaupun shalat mematuk-matuk seperti burung makan jagung, sangat minim dzikirnya kepada Allah. Perhatikan firman Allah mengenai orang-orang munafik ini :

“Jika mereka menegakkan shalat mereka menegakkannya dalam keadaan malas, mereka ingin pujian dan perhatian manusia dan tidak mengingat Allah kecuali sedikit.” (QS. An Nisa’ : 142)

Akhirnya, dalam kenyataan saat ini kita tidak dapati mereka yang terfitnah dengan nyanyian melainkan inilah sebagian di antara sifat-sifat mereka. Dan di samping itu, nifaq juga dibangun di atas dusta dan al ghina’ adalah kedustaan yang paling tinggi. Di dalamnya, kejahatan menjadi sesuatu yang menarik dan indah, bahkan tak jarang ia menghiasi lebih indah lagi dan setiap perkara kebaikan terasa jauh, sulit dijangkau, dan sangat jelek. Inilah hakikat kemunafikan. Al ghina’ merusak dan mengotori hati, sehingga apabila hati itu telah kotor apalagi rusak, hati akan menjadi lemah dan gampang takluk di bawah kekuasaan kemunafikan.

Ibnul Qayyim meneruskan : “Seandainya mereka yang memiliki bashirah memperhatikan dan membandingkan keadaan orang-orang yang bergelut dengan nyanyian dan mereka yang senantiasa menyibukkan diri dengan dzikrullah, nyatalah baginya betapa dalamnya pengetahuan dan pemahaman para shahabat terhadap hati dan penyakit-penyakit serta pengobatannya.” (Demikian penjelasan Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Mawaridul Aman 322-323)

Jumaat, 2009 November 20

Pemimpin UMNO boleh dakwah camni ke ??

Pada hari Sabtu lalu dua-ratus wanita yang suka pesta, diundang untuk hadir dalam acara mewah yang berlansung di Rom.

Tentunya wanita-wanita muda belia itu menduga akan ada acara makanan ringan dengan ragam minuman. Ternyata tidak begitu, para wanita cantik itu dianjurkan untuk masuk Islam.

Proses pemilihan itu cukup ketat. Gadis-gadis itu syaratnya harus cantik, berusia antara 18 sampai 35 tahun dan setidaknya memiliki tinggi badan 170cm.

Peraturan pakaian mereka pun sangat ketat, yang dadanya terbuka jauh ke bawah dan miniskirt, pasti tidak akan boleh ikut serta.

Kedua-ratus wanita muda itu datang bersama. Mereka dibawa dengan sejumlah bas ke kawasan perumahan mewah di ibukota Itali. Semua yang datang melaui kamera keselamatan yang dipantau di layar monitor di ruang menyambut tetamu.

Setelah itu para perempuan itu dibiarkan menunggu. Sebahagian mereka mengeluh, kerana tidak melihat sebarang air minum yang disediakan.

Yang misteri adalah siapa gerangan yang melaksanakan pesta, satu jam kemudian, jatidiri tuan rumah mereka akhirnya terungkap, yaitu pemimpin Libya, Muammar Gaddafi, yang terbang ke Rom untuk menghadiri sidang kemuncak makanan Pertubuhan Bangsa-Bangsa Bersatu (PBB) di Rom.

Gaddafi kemudian menyampaikan ceramah tentang Islam. berusaha keras meyakinkan para tamunya bahawa Islam tidak meremehkan kaum wanita seperti disangkakan banyak orang.

Ia kemudian mengajurkan agar mereka menjadi Muslimah. Sekitar dua jam berikutnya, para wanita tersebut pergi sambil memendam rasa hairan.

Namun, mereka masing-masing dihadiahkan 50 euro (RM302) dan senaskah al-Qur'an.

sumber: Cikguzul

Tazkirah pagi Jumaat

Ust Halim Abdullah


Ramai dari kita yang telah maklum kelebihan 10 Malam-malam Terakhir Ramadhan. Tetapi adakah ramai dikalangan umat kita yang maklum kelebihan 10 Hari-hari Pertama dalam bulan Zulhijjah? Imam al Bukhari Rahimahullah meriwayatkan daripada Ibnu ‘Abbas r.a bahawa Nabi s.a.w bersabda, Tiada suatu hari pun, amalan kebaikan padanya mempunyai kelebihan melainkan pada hari-hari ini – iaitu 10 hari Zulhijjah. Para sahabat baginda bertanya, ‘Tidak juga Jihad pada jalan Allah (mengatasi kelebihan Hari-hari tersebut)? Ujar Baginda, Tidak juga Jihad di jalan Allah kecuali seorang yang keluar dengan jiwa raga dan hartanya dan tidak membawa pulang apa-apa pun (kerana habis disumbangkan untuk memenangkan agama Allah).

Imam Ahmad r.a. dari Ibnu Umar r.a. bahawa Rasulullah s.a.w bersabda, “Tiada suatu haripun, amalan kebaikan padanya mempunyai kelebihan melainkan pada hari-hari 10 Zulhijjah ini, oleh kerana itu perbanyakkanlah padanya tahlil (La Ilaha Illa Allah), takbir (Allah Akbar) dan tahmid (Alhamdu Lillah).

Ibnu Hibban di dam kitab Sahihnya meriwayatkan dari Jabir r.a. bahawa baginda s.a.w bersabda, “Seutama-utama hari adalah hari Arafah”.

Amalan yang dianjurkan padanya

1. Menunaikan ibadah haji dan umrah yang merupakan sebaik-baik amalan. Banyak hadis menyatakan kelebihan ibadah ini di antaranya : Sabda Nabi s.a.w.: “Satu umrah ke umrah yang lain menghapuskan (dosa) yang dilakukan di antara keduanya dan haji yang baik (diterima) tiada baginya balasan melainkan syurga”.

2. Berpuasa pada hari-hari tersebut atau sekadar kemampuannya – terutamanya pada hari Arafah. Tidak dinafikan bahawa puasa adalah di antara amalan yang terbaik dan ia adalah pilihan Allah seperti yang dinyatakan di dalam sebuah hadis qudsi, “Puasa itu adalah bagiKu dan Akulah yang membalasinya, dia meninggalkan keinginan nafsunya, makanan dan minumannya semata-mata keranaKu”.

Imam Muslim meriwayatkan dari Abi Qatadah r.a. bahawa Rasulullah s.a.w bersabda, Puasa pada hari Arafah, saya mengharap Allah akan menghapuskan (dosa) setahun yang lalu dan setahun yang mendatang.

3. Takbir (Allahu Akbar) dan berzikir padanya, firman Allah s.w.t yang bermaksud, (Dan supaya mereka menyebut nama Allah pada beberapa hari yang termaklum), hari-hari tersebut dijelaskan sebagai 10 hari di bulan Zulhijjah. Sebab itulah para ulama menyarankan supaya diperbanyakkan berzikir pada hari-hari tersebut sebagaimana mafhum hadis Ibnu Umar r.a. yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, di antaranya, “Oleh kerana itu perbanyakkanlah padanya tahlil (La Ilaha Illa Allah), takbir (Allah Akbar) dan tahmid (Alhamdulillah)”.

4. Bertaubat dan meninggalkan segala maksiat dan dosa, semoga dengan amalan baik dapat mencapai keampunan dan rahmat Allah. Ini kerana maksiat adalah punca kepada jauh dan terhindarnya seorang hamba dari rahmat Allah manakala ketaatan pula adalah punca dekat dan kasihnya Allah kepadanya.

5. Memperbanyakkan amalan soleh terutama amalan sunat tambahan seperti solat sunat, berjihad, membaca al-Quran, menyeru kepada kebaikan, mencegah kemungkaran dan seumpamanya kerana semuanya akan digandakan pada hari-hari tersebut.

Amalan yang dikerjakan ketika itu walaupun kecil tetapi ia lebih disukai oleh Allah dibandingkan pada hari-hari lain. Begitu juga amalan yang besar seperti berjihad di jalan Allah yang dikategorikan di antara amalan yang terbaik, tidaklah mendapat kehebatan pahala pada hari-hari itu melainkan apabila kuda (kenderaan) yang ditungganginya terbunuh (binasa) dan darahnya keluar (dia cedera atau mati syahid).

6. Disyariatkan bertakbir pada beberapa hari yang mulia itu pada waktu siang atau malam terutama selepas menunaikan fardu solat lima waktu yang dikerjakan secara berjemaah.

Bagi mereka yang tidak menunaikan ibadah haji, takbir bermula dari waktu subuh hari Arafah (9 Zulhijjah) dan bagi yang menunaikannya takbir bermula pada waktu Zuhur hari raya haji (10 Zulhijjah), semuanya berakhir sehingga waktu Asar pada hari ke-13 Zulhijjah.

7. Disyariatkan amalan korban (menyembelih haiwan ternakan) pada hari raya haji dan hari-hari Tasyriq (11, 12 dan 13 Zulhijjah). Ia merupakan sunah Nabi Ibrahim a.s. setelah Allah s.w.t mengujinya dengan perintah menyembelih anaknya Ismail tetapi ditebus ujian itu dengan digantikan seekor haiwan untuk disembelih.

8. Imam Muslim meriwayatkan dari Ummu Salamah r.a bahawa Nabi s.a.w bersabda, Apabila kamu telah melihat anak bulan Zulhijjah dan ada di kalangan kamu yang ingin berkorban (sembelih haiwan ternakan), hendaklah dia menahan dirinya dari (memotong) rambut dan kukunya, dan di dalam riwayat lain : “Maka janganlah dia memotong rambut dan kukunya sehinggalah dia berkorban.

Perintah (sunat) ini berkemungkinan ada persamaan dengan hukum bagi mereka yang membawa haiwan ternakan (ketika mengerjakan haji) dari kampung mereka yang telah dijelaskan oleh Allah, maksudnya, (Dan janganlah kamu mencukur rambut kamu sehinggalah haiwan ternakan (yang dibawa untuk dihadiahkan dagingnya kepada penduduk Mekah) itu sampai ke tempatnya).

Larangan (memotong rambut dan kuku) ini pada zahirnya adalah khusus kepada pemunya haiwan korban tersebut sahaja dan tidak termasuk isteri dan anak-anaknya melainkan mereka juga mempunyai haiwan seumpamanya, dan tidak mengapa jika yang berkenaan membasuh dan menggosok kepalanya kemudian terjatuh beberapa helai rambutnya.

9. Setiap muslim hendaklah berusaha menunaikan solat hari raya secara berjemaah, mendengar khutbah oleh imam selepas solat tersebut supaya mendapat pengajaran daripadanya.

Sepatutnyalah kita mengetahui hikmat di sebalik perayaan ini. Ia merupakan hari menyatakan kesyukuran dengan melakukan kebaikan. Janganlah pula dilakukan padanya perkara yang mendatangkan kemurkaan Allah dengan mengerjakan maksiat, kesombongan, pertengkaran dan sebagainya yang boleh menjadi sebab kepada terhapusnya amalan kebaikan yang dikerjakannya sebelum itu.

10. Penuhilah hari-hari berkenaan dengan ketaatan kepada Allah, berzikir, bersyukur, menunaikan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, mendekatkan diri kepada-Nya semoga mendapat rahmat dan keampunan-Nya.

Isnin, 2009 Oktober 19

PAS SERKAM DARAT RANCANG TUBUH PASTI

Assalamualaikum .. salam perjuangan

Dalam perbualan yang berlangsung antara ahli jawatankuasa kerja PAS Cawangan Serkam Darat dengan beberapa AJK Pemuda PAS Serkam Darat, terpacul cadangan untuk menubuhkan Pusat Asuhan Tunas Islam. Menurut Ketua Pemuda PAS Cawangan Serkam Darat, cadangan penubuhan pusat asuhan ini sudah lama dihasratkan untuk ditubuhkan dan dilaksanakan di serkam darat memandangkan berkemungkinan Serkam Darat akan dinaik taraf ke pada hab pengajian tinggi pada masa akan datang.

Cadangan ini juga turut disokong oleh Ketua Cawangan PAS Serkam Darat, yang memandang serius akan perkara ini dan ianya akan dibawa dalam perbincangan mesyuarat AJK Cawangan yang akan datang. Pengambilan pertama untuk sesi persekolahan akan dibuka bermula bulan November yang akan datang. PASTI Serkam Darat akan dikendalikan sepenuhnya oleh Dewan Pemuda PAS Cawangan.

JAMUAN HARI RAYA PCSD SEDERHANA TAPI MERIAH

Assalamualaikum .. salam perjuanganImbang Penuh

Semalam telah selamat berlangsung jamuan hari raya PAS yang julung kali diadakan pada setiap tahun dan merupakan salah satu daripada program wajib tahunan yang diadakan di peringkat PAS Cawangan. Program yang menghimpunkan segenap pelusuk warga serkam darat yang terdiri daripada pelbagai bangsa tanpa mengira latar belakang,warna kulit, ideologi politik dan agama.

Program dimulakan dengan bacaan tahlil yang dipimpin oleh Pak Syeikh,Tuan Haji Said bin Omar dan disusuli dengan jamuan ini terut mengundang YB ADUN Serkam Tn.Hj Ghazale. Berikut adalah paparan yang dapat dikongsikan bersama semua














Sabtu, 2009 Oktober 17

UNDANGAN KE PROGRAM MARKAZ TERBUKA

Assalamualaikum ... salam perjuangan

Insya Allah esok 18 OKtober 2009 bersamaan 29 syawal 1430 hijrah akan diadakan majlis markaz terbuka bersempena dengan Sambutan Aidilfitri 1430Hijrah. Majlis akan bermula sekitar jam 10.00 pagi dimulakan dengan tahlil ringkas dan disusuli dengan jamuan hari raya dan akan diselang selikan dengan ucapan -ucapan daripada pimpinan cawangan, kawasan dan negeri yang hadir.

Menurut penyelaras program, tuan haji awaldin, program ini diadakan adalah atas dasar ukhuwah islamiah selain memupuk semangat persaudaraan dikalangan ahli dan juga warga serkam. Majlis ini juga dijangka dihadiri oleh rakan-rakan dari Kelab Penyokong Pas Kaum India dan Cina yang bakal hadir untuk memeriahkan lagi majlis ini. Semoga dengan segala gerak kerja yang dilaksanakan akan mengeratkan lagi hubungan sesama ahli masyarakat seterusnya merapatkan lagi saff perjuangan PAS Serkam Darat

Ahad, 2009 Oktober 11

PR DIDAFTARKAN : MASIH DALAM PERBINCANGAN

Beberapa pimpinan Pakatan Rakyat memberikan respon mereka terhadap kenyataan yang dikeluarkan oleh Jabatan Pendaftaran Pertubuhan (ROS) berhubung pendaftaran Pakatan Rakyat sebagai sebuah parti.

Naib Presiden Parti Keadilan Rakyat, Sivarasa Rasiah berkata, Pakatan Rakyat tidak pernah menjadikan isu pendaftaran gabungan itu sebagai suatu perkara pokok sebaliknya keutuhan dan kerjasama di antara ketiga-tiga parti itu yang sering menjadi keutamaan.
" Bagi saya pendaftaran itu, ia satu isu teknikal yang tidak akan menjejaskan perjalanan gabungan. Tapi hanya satu kelebihan yang kita ada kalau isu pendaftaran ini dijalankan iaitu penggunaan satu lambang".

"Kalau pakatan buat keputusan untuk membuat satu lambang, bagi saya pada saat itu sahaja isu pendaftaran ini menjadi penting. Kalau hendak dijadikan satu lambang, maka memang pendaftaran itu penting".

Ujarnya lagi, selama setahun usia gabungan itu, apa yang dititik beratkan adalah untuk memperkasakan pakatan dari segenap segi.
Bukan hanya mengamalkan sikap keterbukaan di antara ketiga-tiga parti, malah Pakatan Rakyat tampil dengan idea dan corak pemerintahan yang jauh lebih matang.
" Isu halangan ini tidak timbul dan isu pendaftaran ini pun tidak timbul. Sebab di pihak kami, apa yang lebih penting semenjak penubuhan Pakatan setahun yang lepas adalah untuk memperkukuhkan Pakatan itu sebagai satu gabungan. Jadi usaha kita untuk membuat struktur kita sendiri, mekanisma kerjasama, struktur pentadbiran, itu lebih penting. Dan isi gabungan itu lebih penting daripada hakikat pendaftaran itu" ujarnya lagi.
Sebelum ini, Timbalan Pengerusi Suruhanjaya Pilihan Raya (SPR) Datuk Wan Ahmad Wan Omar mengumumkan Pakatan Rakyat boleh membentuk satu parti dengan hanya mempunyai tiga anggota sahaja.

Ia kemudiannya diikuti dengan kenyataan Ketua Pengarah Jabatan Pendaftaran Pertubuhan (ROS), Datuk Md Alias Kalil yang memaklumkan Pakatan Rakyat boleh bergabung sebagai parti dan tidak memerlukan syarat tujuh anggota kerana Pakatan Rakyat sudah bertaraf nasional.

Sementara itu, bagi Ahli Parlimen Gopeng, Lee Boon Chye, pengumuman yang dibuat oleh kedua-dua organisasi itu diterima baik namun ianya tetap menimbulkan keraguan.
" Saya tidak menafikan mungkin wujudnya muslihat sedemikian. Cuma yang penting sekali, sama ada pimpinan ketiga-tiga parti sedia untuk mendaftar sebagai satu pakatan dan nama pakatan ini tidak semestinya Pakatan Rakyat. Tapi yang penting sekali adalah sama ada ketiga-tiga parti ini bersetuju menjadikan satu gabungan yang lebih kukuh".
" Saya gembira dengan cadangan ROS, tetapi saya begitu terkejut sejak bila ROS begitu mesra dengan Pakatan Rakyat. Saya rasa kita berhasrat sekiranya mendapat persetujuan dari ketiga-tiga parti, saya rasa pendaftaran Pakatan Rakyat adalah satu idea baik yang boleh memperkukuhkan kerjasama di antara ketiga-tiga parti dan kita boleh memberi bayangan yang mana ini adalah satu pakatan yang kukuh kepada rakyat".
Manakala bagi Ahli Parlimen Batu, Chua Tian Chang, syarat yang diletakkan untuk menubuhkan satu-satu parti melalui syarat tujuh anggota sudah tidak relevan pada masa kini.

Namun beliau tidak menolak pendaftaran Pakatan Rakyat akan memberikan impak yang lebih positif dalam memperkukuhkan lagi pakatan itu." Pertama sekali syarat tujuh anggota ini sudah tidak boleh dipakai untuk menyekat penubuhan sebarang penggabungan parti-parti politik atau kesatuan sekerja. Bagi kita hak untuk bergabung ini adalah satu hak dalam perlembagaan. Bagi pakatan juga niat kita untuk berdaftar ini sebagai langkah untuk memperkukuhkan lagi penggabungan kita sebagai satu pergerakan politik untuk jangka masa panjang dan kukuh perhubungan kita".

MCA DAH PECAH DUA .. UMNO ??

Presiden MCA Ong Tee Keat terpaksa akur dengan keputusan yang tidak menyebelahinya pada Mesyuarat Agung Luar Biasa (EGM) MCA hari ini.
Keputusan menyaksikan 1,155 daripada 2,307 perwakilan menyokong undi tidak percaya terhadap kepimpinannya sebagai presiden parti.

Manakala Soi Lek diterima semula menganggotai parti itu apabila seramai 1,204 perwakilan membantah keputusan Majlis Presiden memecat atau menggantung bekas timbalan presiden itu berbanding 1,095 undi yang menyokong keputusan yang dibuat 26 Ogos lalu.

Namun Chua Soi Lek gagal mendapat sokongan perwakilan untuk dilantik semula sebagai timbalan presiden apabila hanya mendapat 1,110 undian sahaja, berbanding 1,184 yang menolaknya.

Keputusan ini diumumkan oleh Speaker Datuk Yik Phooi Hoong pada kira-kira 4.25 petang tadi.

Sebelum itu, keadaan tegang apabila kiraan semula dibuat untuk undian bagi usul tidak percaya kepada Tee Keat kerana majoritinya hanya 20 undi atau 1 peratus.

Yip memberitahu para perwakilan, sekiranya jumlah undi sama banyak, mengikut perlembagaan parti, beliau akan mengundi bagi menentukan pemenangnya.

Beliau kemudiannya meminta perwakilan menunggu dan kedengaran bunyi laungan 'boo' dari para hadiran.

Seramai 2,307 perwakilan MCA mengundi dalam EGM hari ini untuk menentukan nasib dan masa depan politik Presiden Datuk Seri Ong Tee Keat dan Soi Lek.

EGM bermula pada kira-kira jam 10.30 pagi tadi.

Khamis, 2009 Oktober 08

UMNO BAGAI TELUR DIHUJUNG TANDUK

Kurang seminggu dari sekarang akan berlangsung buat sekian kalinya Pilihanraya Kecil Bagan Pinang N.31 yang menyaksikan pertembungan buku dan ruas PAS dan UMNO. PRK sebelumnya menyaksikan kemenangan berturut-turut di Semenanjung Malaysia di pihak PAS-DAP-PKR yang membentuk Pakatan Rakyat.

Suara PR ini memberikan kesan yang amat mendalam kepada rakyat dalam memperjuangkan kebenaran, keadilan, ketelusan dan kebebasan yang rata-rata diidami semua. Tsunami politik yang berlaku pada PRU12 yang lepas masih memberikan impak yang amat mendalam kepada rakyat yang sedar akan kebobrokan yang berlaku pada kerajaan pemerintah UMNO-BN selama lebih 50 tahun.

Dalam keghairahan para pemimpin pemerintah menghentam dan mencipta keburukan terhadap PR mereka tidak menyedari bahawa rakyat bukanlah bodoh setelah melihat hasil pemerintahan selama lebih setengah abad. Diikuti dengan siri-siri pembongkaran yang semakin menyerlahkan kebobrokan dan ketidak telusan yang telah dilakukan oleh mereka.
Lihat sahajalah berita-berita yang disiarkan oleh 'Media Prima' yang merupakan ejen UMNO-BN dalam membuat propaganda memburuk-burukkan pakatan pembangkang dengan pelbagai tuduhan yang berniat mala-fide. Seterusnya menjadikan mereka seolah-olah teraniaya, telus dan bersih mengharapkan undi simpati menyebelahi mereka dengan menggunakan seluruh jentera kerajaan (PDRM, SPRM, ISA etc.) bagi memastikan kuasa di tangan mereka dapat terus kekal.

Apakah rakyat yang semakin menuju ke arah negara membangun dengan penerapan nilai-nilai ilmu yang tinggi akan bersikap tunggu dan lihat dengan hanya mengejar kemajuan semata? Rakyat Selangor, Pulau Pinang, Kedah dan Kelantan sudah membuktikan mereka bukanlah bagaikan lembu yang dicucuk hidungnya dengan hanya memangkah dengan membuta tuli tanpa melihat calon mereka terlebih dahulu.

Rakyat yang semakin bijak membuat pilihan dalam menentukan masa hadapan negara mengetahui yang mana baik dan buruk. Yang mana adil dan bobrok dalam pelbagai sudut.
Dengan izin ALLAH, yang batil pasti akan dikalahkan oleh yang hak. Lambat laun seandainya mereka terus dengan mentaliti mengumpul harta, mengejar kebendaan, melanggar hukum ALLAH, menyemai amalan rasuah dan tidak berlaku adil dalam pemerintahan kelak janji ALLAH pasti belaku. Janji untuk menggantikan satu kaum yang membelakangi hukum ALLAH dengan satu kaum yang benar-benar cintakan ALLAH.

Ayuh kita tegakkan keadilan, perjuangkan keadilan dan semarakkan ISLAM dengan penuh bersemangat menjelaskan kepada rakyat akan hakikat yang sebenar. Adalah tidak wajar andai kita terus menerus mentaati pemimpin yang gagal menjalankan fungsi ISLAM dalam pentadbirannya selepas segala macam nasihat dan teguran diberikan.
Jadikan ISLAM model pemerintahan yang menyeluruh.

Negara Malaysia yang menjadikan ISLAM sebagai agama rasmi bukan hanya sekadar sebagai pegangan semata. Sewajarnya segala tunjuk ajar yang ISLAM gariskan dilaksanakan dengan sebaik mungkin mengikut acuan yang ditunjukkan melalui Junjungan Besar, NABI MUHAMMAD S.A.W.

Jangan takut dan gentar terhadap segala macam cacian dan maki hamun kerana ianya merupakan sunnah dalam perjuangan. Semoga usaha yang secebis ini akan diambil kira oleh ALLAH tatkala hari pengadilan kelak.

JANGAN ZALIMI IBU TUNGGAL

Assalamualaikum ... Salam ukhuwah

Hmm… topik ini nampak sangat berat sebelah. Seperti hendak berkata tentang bidang kerja yang dibuat sekarang. Minta maaf ye. Hakikatnya, dengan sesiapa pun kita tak boleh berlaku zalim walaupun kepada binatang dan alam sekitar. Cuma dalam konteks anak yatim, terlalu banyak ayat-ayat al-Quran dan hadis yang menyentuh tentang larangan berbuat zalim, mengherdik, menghina dll terhadap anak yatim. Malah, ibu-ibu tunggal yang memelihara anak-anak kandung mereka yang yatim juga perlu sedar dengan peringatan ini.

Tapi, apa kena-mengena dengan jangan zalimi ibu tunggal? Jawapannya, kerana merekalah pemelihara anak yatim. Dibimbangi jika kita menzalimi ibu tunggal, maka maslahat anak-anak yatim juga akan terjejas. Tidak kiralah kezaliman tu dari sudut mental, fizikal, material mahupun emosi. Para ibu tunggal telah sedia menanggung terlalu banyak bebanan. Dari hendak mencari nafkah, menguruskan anak-anak, mendidik mereka, memikirkan keselamatan keluarga dll. Entah-entah hal diri sendiri, makan pakai sendiri pun tak sempat difikirkan. Setiap saat ada sahaja tekanan tanggungjawab dan emosi yang berlegar. Jika tidak kuat kesabaran dan pergantungan mereka kepada Allah, memang amat mudah pula pertimbangan akal fikiran mereka terbabas keluar dari landasan normal kehidupan. Secara jujurnya, saya sendiri sering terlajak dalam membuat pertimbangan apabila dihimpit dengan begitu banyak tekanan.

Berdasarkan pengalaman sendiri inilah menginsafkan saya tentang isu kezaliman ke atas ibu tunggal sama ada secara direct atau indirect. Mereka sudah menanggung terlalu banyak tekanan. Maka janganlah berikan mereka lebih banyak tekanan. Bimbang… jika anak-anak yatim pula yang menjadi mangsa apabila dijadikan tempat untuk melepaskan geram dan amarah.
Hmmm… kalau sudah tahu bahawa berbuat zalim kepada anak yatim adalah perkara haram, maka tidakkah berbuat zalim kepada pengasuh anak yatim juga adalah perkara haram?